It Hurts

TITLE:;: It Hurts/Lonely/(apalah terserah, author strezz cri jdul yg cocok)
AUTHOR:;: Cherry Chibi>w<
CAST:;: Kim Jaejoong, Jung Yunho
A/N:;: inspirasi dr mvnya 2ne1 It Hurts, tp ttp ada bedanya kok… ini ver YunJae^^ Happy reading~>w<

“Saengil chukahamnida!”

Itulah yang biasanya aku dengar di saat-saat seperti ini. Tapi sekarang berbeda.

Disini, diantara kegelapan dan suramnya bangunan tua ini aku meletakan sebuah kue besar diujung meja. Kutarik sebuah kursi perlahan dan duduk diatasnya, tepat didepan kue. Kuraih sebatang lilin yang tadi kunyalakan, yang berada diatas piring kecil, dan kunyalakan satu-persatu lilin kecil yang berada diatas kue.

Kuletakan kecil lilin besar itu. Kutangkupkan kedua tangan didepan dadaku dan mulai kupejamkan mataku. Kumulai doa’ku dengan sungguh-sungguh.

Keheningan terus menyelimuti seluruh sudut tempat ini. Kekosongan yang sama dalam hatiku. Setiap sisi dalam hatiku memohon berbagai permintaan. Keinginan untuk terus hidup atau mati. Tapi kurasa semua sama saja. Karena aku hidup dalam kematian.

Kuhembuskan nafsku kecil lalu membuka mataku perlahan. Kudongakan wajahku saat sudut mataku menangkap sosok itu.

Dadaku terasa terhenyak ketika menatap matanya. Dengan cepat kutabrak dirinya dan kupeluk dengan erat. Kuhirup aorma tubuhnya dalam-dalam, menjadikannya sebagai persediaan hidupku. Tangannya terangkat memelukku. Dengan lembut dikecupnya keningku.

“Jaejoong, ini teman Appa.” Ucap Appa. Didepan kami berdiri seorang lelaki paruh baya dengan perawakan besar dan seorang lelaki kecil disampingnya. “Jung-ssi, anakmu sudah besar, ya.” Kata Umma. Lelaki yang dipanggil ‘jung-ssi’ oleh Umma mengangguk.

“Yunho, dia seumuran denganmu. Kalian bertemanlah dengan baik.” Pesan Jung-ssi pada lelaki kecil disampingnya. Namja tampan itu mengangguk. Dia mengulurkan tagannya padaku.

“Namaku Jung Yunho. Salam kenal!” ucapnya lalu tersenyum padaku, memerkan gigi gingsulnya yang membuat senyumannya semakin manis. Aku menyambut tangannya dan mebalas tersenyum manis. “Kim Jaejoong imnida.” Jawabku.

Tangannya merambat keatas kepalaku dan mengelus lembut rambutku.

“Awas!” Yunho menarik tanganku dengan cepat sebelum aku terpeleset dan terebur kedalam kolam. Tapi tenaganya terlalu besar hingga membuat tubuhku malah menabrak dirinya dan membuat kami berdua terjatuh.

“Akkhh… mian.” Ucapku langsung berdiri begitu mendapati posisi kami yang cukup ‘membahayakan’.

“Gwenchana?” tanya Yunho sembari mengecek seluruh tubuhku. Dari raut wajahnya dia terlihat sangat khawatir. Dia terlalu berlebihan. Aku hanya jauh begitu saja dan justru dia yang menghantam tanah. Harusnya aku yang bertanya dia taka pa-apa, kan?

“Jaejooong-ah?” tanya Yunho begitu tak mendapat respon dariku, malah hanya dipandangi terus-menerus.

“Ah, ne. Gwenchana.”

Dia menarik daguku da mengecup lembut bibirku. Saat dia hendak melepaskannya aku kembali menarik wajahnya dan kembali menautkan bibir kami.

BRAKK

“KIM JAEJOONG!!!” dengan cepat aku mendorong tubuh Yunho saat mendengar teriakan itu. Aku menoleh dengan takut kearah suara. Suaraku tercekat saat melihat siapa yang berdiri diambang pintu dengan wajah penuh amarah.

“KAU MEMPERMALUKAN NAMA KERAJAAN!!!”

Air mataku memeleleh perlahan, turun menyusuri pipi dan lekuk wajahku. Dengan tagan hangatnya dia menyeka air mataku yang terjatuh.

Mataku terbelalak membaca berita itu. Walau hanya melalui judulnya air mataku sudah siap jatuh.

JUNG YUNHO, PANGERAN KERAJAAN XX, MENINGGAL

Dan tepat malam itu juga aku pergi ke tempat makamnya, yang berada di sebuah kastil. Tempat ini sangat jauh dari jangkauan masyarakat luar. Dan tempat ini sama sekali tak terurus. Aku tahu, Raja Jung juga membenci hubungan kami dan dia jadi sangat membenci Yunho yang berstatus pangeran mahkota.

Dari sudut mataku aku dapat melihat, diatas kueku hanya tersisa sebatang lilin yang masih menyaal apinya. Dan api itu seketika padam ketika angin berhembus lewat, lewat celah bingkai jendela besar disudut ruangan.

Saat itu juga aku kembali kehilangan sosoknya. Yang kini kepeluk hanyalah udara. Kembali, kekosongan memenuhi hatiku… dan ragaku.

Cukup sudah.

Aku tak kuat… menanggung kesendirian ini lagi.

Tanganku meraih sebilah pisau tajam disamping kueku. Dengan sekali tebas terkulirlah goresan dalam di lenganku, tepat di urat nadiku.

Dengan langkah gontai aku berjalan menuju ruangan sebelah. Ditengah-tengah ruangan tersebut terdapat sebuah peti. Aku mulai membuka peti itu dengan sisa tenagaku. Aku sudah kekurangan banyak darah sekarang.

Untuk terakhir kalinya, kukecup gigi mayat belulang didalam peti ini. Dan yang untuk terakhir kali, aku tersenyum sebelum kehilangan kesadaranku… dan lenyap dari dunia ini…

__TT_____TT

Gak tega bikn Yunppa mati gt TT________TT
Jaemma kacian ndiri gt…
Mian klo krasa kecptn n aneh gmn… coz biknnya bru2 n tanpa diedit^^
coment please^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s