Force 2

Sebenarrnya awalnya males ngelanjutin ni ff~ tp akhirnya kelanjut juga karna banyak yg penasaran ma hyung.a wookie~ happy reading~>w<

TITLE:;: Force
CHAPTER:;: 2
AUTHOR:;: Cherry Chibi>w<
CAST:;: All Kim(s) in Super Junior

“Apa itu?” tanya Ryeowook, tanpa menoleh pada Heechul. Matanya terus menatap benda yang menarik perhatiannya. Sebuah perasaan aneh menyerang dadanya tiba-tiba, membuatnya seolah kehilangan udara disekitar mereka. Sesak.

“Hng? Apanya?” Heechul menoleh kearah mata Ryeowook. Merasa tak menemukan apapun Heechul menoleh kearah Ryeowook dan kembali menatap depannya, dimana tangan Ryeowook menunjuk.

Deg!
Deg!
Deg!

Perasaan itu terus bergemuruh di dadanya. Perasaan, yang entah kenapa pernah dirasakannya itu, seolah menyedot kesadaran Ryeowook. Perlahan mata Ryeowook meredup, menatap kosong benda itu. Kesadarannya seolah tak ada sekarang. Dia berjalan, tanpa memperdulikan seruan Heechul dibelakangnya.

Dia terus berjalan, menuju benda itu. Tangannya terulur, mencoba menggapai benda tersebut. Sedikit lagi… sedikit lagi saja…

Tep

Jemari Ryeowook berhasil menyentuh benda itu. Seketika itu juga dia melihat sebuah sosok, berdiri dihadapannya. Dia… orang yang sama dengan yang dilihat Ryeowook saat dia mendapat luka di sekitar mata kanannya.

Mata Ryeowook membelalak ketika tangan sosok itu menyentuh dahinya. Tubuhnya terasa terkunci saat itu. Dia ingin lari, tapi kakinya terlalu lemas untuk digerakan. Dia ingin berteriak, tapi mulutnya terasa kaku terkunci dan suaranya tercekt di tenggorokan. Yang hanya bisa dilakukannya sekarang hanyalah diam, menatap sosok yang juga menatapnya dalam.

Tangan sosok itu merambat, menangkup di pipi Ryeowook. Ryeowook menelan salivanya berat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Entah kenapa perasaan takut yang sangat melandanya begitu saja.

Sosok itu tersenyum, memperlihatkan wajahnya yang mengerikan. Ryeowook kembali menelan salivanya berat.

“GYYYYYYYYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

BRUKK

Akhirnya Ryeowook berhasil mengeluarkan tenaganya untuk berteriak. Hanya berteriak, karena setelah itu dia langsung ambruk tak sadarkan diri. Sosok itu tersenyum menatap Ryeowook. Tapi dengan cepat dia menghilang saat mendengar seseorang berteriak, “Ryeowook-a! Gwenchanayo?”

<><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><>

“Ah! Dia bangun!” seru Kibum senang.

“Ukhh…” Ryeowook memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Dengan dibantu Heechul dia bangkit dari posisi tidurnya.

“Kenapa kau tadi?” tanya Heechul. Ryeowook menoleh kearah Heechul lalu menggeleng pelan. “Aku sendiripun tak tahu.” Jawabnya kemudian.

“Hah? Kau demam, ah bukan, entah apa namanya, tadi suhu tubuhmu dingin sekali. Apa yang terjadi?” tanya Kibum.

“Sulit menjelaskannya. Tadi… aku melihat sebuah benda, aku tak tahu apa itu. Dan tiba-tiba saja tubuku bergerak sendiri mendekati benda itu. Dan saat aku menyentuhnya, aku melihat sosok seseorang… eh, aku sendiri tak tahu dia manusia atau bukan. Yang pasti… sangat mengerikan.”

“Itu tergambar jelas di wajahmu.” Jongwoon menangkupkan telapak tangannya di dahi Ryeowook. “Sudah tak dingin, tapi masih pucat.” Jarinya mengelus bibir Ryeowook dan berjalan menyusuri setiap lekuk wajahnya.

Saat Jongwoon melakukan itu, ada perasaan aneh terasa dalam dada Ryeowook. Tapi perasaan itu seketika hilang saat Jongwoon menyentuh luka hitam disekitar mata kanannya, berganti dengan perasaan tegang yang entah apa itu.

PLAKK

Ryeowook menampar tangan Jongwoon hingga lepas dari wajahnya, membuat namja yang lain dalam ruangan itu terbengong dan bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba.

“Wae, Wookie?” tanya Heechul.

“A-ah, mian.” Ryeowook menundukan kepalanya. Tangannya bergetar ketakutan, entah karna apa. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di tubuhnya, membagi kehangatan padanya.

“Gwenchana.” Ucap Jongwoon. Pertahanan Ryeowook hancur tepat ketika Jongwoon selesai mengatakan itu. Dia menangis. Entah karna apa air matanya jatuh begitu saja. Jongwoon semakin mengeratkan pelukannya, membiarkan Ryeowook menangis didalamnya. Membiarkan namja itu meluapkan segala ketakutannya.

<><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><>

“Hari ini kita lanjutkan pencarian namja itu. Sekarang kita sudah punya petunjuk lebih, Ryeowook.” Jongwoon menoleh kearah Ryeowook, diikuti yang lainnya.

“Eh? Mwo? Aku?” Ryeowook menunjuk dirinya sendiri. “A-aku tidak tau dimana Hyungku. Aku tak tau petunjuk apapun.”

Jongwoon menghampiri Ryeowook dan berbisik di telinganya, “Bagaimana kalau kita ulangi lagi kejadian dalam gua kemarin?”

“Shiro!!” jawab Ryeowook cepat. “Kau saja.” Ucapnya dengan tatapan kesal. Jongwoon menggeleng. “Disini yang bisa melihat benda itu hanya kau.”

Sebenarnya Ryeowook ingin bertanya darimana Jongwoon bisa tahu akan hal itu, padahal dia sendiri tak tahu, tapi Jongwoon sudah terlanjur menarik tangannya menuju ruangan yang dimasuki Ryewoook dan Heechul kemarin.

“Shiro.” Ryeowook melepaskan genggaman tangan Jongwoon. Dengan paksa Jongwoon menarik kembali Ryeowook dan memaksanya jalan mengikutinya. Sementara itu anggota lain menunggu diluar oleh komando Jongwoon.

Ryeowook terus berusaha melepaskan tangan Jongwoon darinya, tapi kekuatan namja itu lebih kuat darinya. Akhirnya Ryeowook menyerah dan membiarkan Jongwoon menariknya hingga ke tempat itu. Langkah Ryeowook tiba-tiba terhenti, membuat Jongwoon yang menariknya jadi sedikit kesuitan lalu menoleh kebelakang.

“Sudah sampai?” tanya Jongwoon. Ryeowook terdiam tak menjawab. Jongwoon tahu, itu artinya ya. Dia sedikit melonggarkan genggamannya, tapi tetap memegang tangan Ryeowook.

Kembali, seperti saat itu, Ryeowook melangkahkan kakinya tanpa keasadaran penuh dirinya. Jongwoon menatapnya dalam, merasa sekaranglah saat itu. Tapi baru lima langkah kecil, Ryeowook kembali terdiam. Jongwoon ikut terdiam, menunggu reaksi Ryeowook. Tapi namja itu tetap diam di tempat tanpa melakukan apa-apa.

Deg! “!!” tiba-tiba Jongwoon merasa lehernya tercekik. Tangannya terangkat, berusaha menggapai sesuatu yang membuatnya tercekik, tapi dia tak menemukan apapun. “AKKKHHH!!!” Jongwoon berteriak kencang saat dirasakan sesuatu menggores tengkuknya dengan perlahan tapi dalam, dan benar saja, saat dia menyentuhkan tangannya di tengkuknya dia merasakan sesuatu yang basah.

Dia kembali berusaha mencari sosok yang telah melukainya, dengan tangan tetap menggenggam Ryeowook.
BRUUK
Tiba-tiba Ryeowook ambruk, membuat Jongwoon semakin kesulitan dalam situasi ini. Dengan tetap menggenggam Ryeowook, dia duduk berusaha meraih tubuh Ryeowook. Saat dirasakan cekikan di lehernya semakin kuat, dia merasakan semilir angin yang hangat meniup luka di tengkuknya. Dan perlahan, cekikan itu semakin longgar dan hilang sama sekali.

“Ryeowook-a! Irronaba! Ya!” Jongwoon menepuk punggung Ryeowook, berharap itu bisa membuatnya bangun. Tapi tak ada reaksi samasekali dari member baru kelompoknya itu. Dengan terpaksa dia mengangkat Ryeowook dan meletakannya dalam gendongannya.

<><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><>

“Ini ketiga kalinya aku yang menyambutnya saat bangun. Anneyong, Ryeowook.” Ucap Kibum saat melihat Ryeowook membuka matanya.

“Itu karna kau yang selalu menungguinya tepat dihadapan wajahnya.” Jawab Youngwoon.
Ryeowook duduk dari posisinya, menatap sekelilingnya. “Mana Jongwoon?” tanyanya saat dia tak menemukan sosok yang sempat memaksanya untuk merasakan ketakutan itu lagi.

“Setelah mengantarmu kemari dia kembali kesana.” Jawab Heechul sembari menyodorkan segelas air pada Ryeowook. Setelah meneguk sedikit air yang diberikan Heechul, Ryeowook beranjak menuju tempat itu kembali.

Heechul beranjak akan mengikuti Ryeowook, tapi Youngwoon menahannya. Heechul menekuk wajahnya kesal. dia khawatir pada dongsaeng sahabatnya itu, karna Heechul sendiri sudah menganggap Ryeowook adik kandungnya.

<><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><><><>0<><>

“Jongwoon-ssi?” panggil Ryeowook sembari mengarahkan senternya. Dia terus berjalan menuju tempat yang dua kali membuatnya tak sadarkan diri di sana. Meski takut, tapi perasaannya berkata bahwa orang yag dicarinya ada disana.

“Jongwoon-ssi!” panggil Ryeowook lagi.
Tep! Langkahnya terhenti ketika dia merasakan sebuah tangan tiba-tiba merengkuh pinggangnya. Secara reflex dia langsung menoleh. Dengan bantuan cahaya yang remang-remang Ryeowook dapat melihat Jongwoon meletakan jarinya di bibir, menyuruhnya agar tak bersuara.

Jongwoon menarik tangan Ryeowook memasuki sebuah celah besar di dinding tempat itu, yang entah sejak kapan ada disana. Mereka berjalan dalam diam. Ryeowook terus mengarahkan senternya kedepan agar jalan mereka terang, karna Jongwoon tak membawa alat penerangan apapun.

Hingga akhirnya Jongwoon menghentikan langkahnya, Ryeowook ikut berhenti. Tempat itu lumayan terang. Ryeowook mematikan senternya. Jongwoon melepaskan genggamannya dan berjalan menuju sebuah peti yang berada dipojok ruangan.

Ryeowook berjalan mendekati Jongwoon yang mulai membuka peti tersebut dengan spell yang tak dimengertinya. “Apa itu?” tanya Ryeowook pelan. Jongwoon tak menjawab. Dia hanya mengangkat dua benda yang diambilnya dari dalam peti tersebut. Ryeowook mengamati benda-benda tersebut. Sebuah gelang putih dan sehelai bulu perak. Ryeowook mengangkat satu alisnya, menatap bingung namja yang memungungginya.

Jongwoon berdiri dari posisinya dan berbalik menghadap Ryeowook. Dia menarik tangan kanan Ryeowook, menarik lengan baju Ryeowook keatas hingga sebagian lengannya terekspos jelas. Jongwoon menyentuhkan gelang putih yang dipegangnya pada lengan bawah Ryeowook, menyapukannya pada kulit halus tersebut. Pipi Ryeowook menghangat saat Jongwoon melakukan hal tersebut. Ada perasaan aneh ketika Ryeowook menatap mata sipit Jongwoon yang terus mengamati lengannya.

Jongwoon yang sadar Ryeowook menatapnya mengangkat wajahnya. “Wae?” Ryeowook menggeleng cepat. Tapi sedetik kemudian semburat merah di pipinya langsung menghilang saat Jongwoon mengaitkan gelang tersebut pada lengannya, terganti dengan rasa panas sangat yang tiba-tiba.

“ARRGGHHH!!” Ryeowook terduduk. Tangan kirinya mencengkram lengan kanannya sendiri.

Jongwoon menatap Ryeowook dengan tenang. “Sudah saatnya.”

“ARRRGGGGGHHHHHHHH!!!” Ryeowook merasakan tangan kanannya mulai berdenyut keras. Rasa panas itu semakin terasa… perih.

DEG
“!!” mata Ryeowook membelalak. Seperti ribuan jarum menusuk lengan kanannya dan mark disekitar mata kanannya. Ryeowook memjamkan matanya sesaat. Dan saat dia membuka matanya kembali rasa sakit tersebut telah menghilang.

Sesaat dia bisa bernafas lega sebelum dia menyadari tempatnya berada sekarang. Dia menangkat kepalanya, menatap setiap sudut kegelapan disekitarnya. Tempat itu mempunyai aura aneh. Terasa hangat di hati tapi juga seperti suatu tekanan derita yang lama di tanggung, ah… sulit menjelaskannya.

Ryeowook mencengkram dadanya sendiri, merasakan sesak disana. Matanya mengedar kesetiap inchi tempat yang terang, berharap menemukan sesuatu disana. Dia berdiri dan berjalan tanpa arah. Da bingung harus kemana dalam kegelapan ini.

Langkah kakinya berhenti saat terdengar sebuah suara yang sangat pelan dan lembut.

“Ryeowook…?”

Dengan cepat Ryeowook menoleh. Matanya membesar ketika dia mendapati sesosok namja berdiri tak jauh darinya. Dia tercengang.

Sementara namja itu seperinya juga terkejut, tapi hanya sedikit terkejut. Dari tatapan matanya terlihat bahwa dia tahu Ryeowook akan datang ke tempat tersebut, walau entah kapan.

Ryeowook masih terdiam di tempatnya. Dengan suara bergetar dia bertanya, “Hyung…?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s