Treat

TITLE:;: Treat

PAIRING:;: RyeoMin

AUTHOR:;: Cherry Chibi>w<

A/N:;: -Happy reading~>w<

 

Tep

Sebuah tepukan lembut terasa di pundakku. Dengan cepat aku menoleh.

Sungmin hyung. dia beridiri dihdapanku dengan senyum manisnya.

“Ada yang bisa kubantu?” Tawarnya lembut. Aku mengangguk cepat dan menunjuk apel yang sedang kukuliti.

Sungmin hyung mengambil alih apel. Sementara aku segera menuju kompor. Dengan menggunakan sendok sayur aku mengaduk bahan yang ada didalam panci.

“Mau membuat apa?”

Aku menoleh padanya, tersenyum manis, dengan tangan tetap mengaduk. “Kare.”

“Oh.”

Sesaat kemudian kami terdiam, konsentrasi pada kegiatan yang dilakukan masing-masing.

“Hyung nggak ada jadwal?” Suaraku memecah keheningan, berbaur dengan suara pisau yang beradu dengan papan pemotong.

Kulihat dari sudut mataku dia menggeleng. “Malam ini tidak. Ah, ya, besok kita ke beli bahan masak, ne? Sudah mulai habis.”

Aku mengangguk kecil.

Kemudain kami terdiam. Larut dalam pekerjaan masing-masing.

“Ini.” Sungmin hyung menyodorkan potongan apelnya. Segera saja kuambil dan kumasukan kedalam panci.

“Eh, ini ketinggalan.” Sungmin hyung memasukan apel yang tertinggal di papan pemotong. Tangan kami sempat bersinggungan. Dan itu membuat sebuah desiran halus terasa di dadaku.

Tapi Sungmin hyung tak tahu. Dengan menyenandungkan sebuah lagu dia berbalik, berjalan menuju wastafel. Tapi entah kenapa dia tiba-tiba terpeleset.

PRANGG

Mangkuk kaca yang dibawanya pecah. Aku mengela nafas. Untung saja Sungmin hyung sempat kutangkap. Segera kulepaskan tanganku, membantunya berdiri tegak lalu mematikan kompor.

“Ayo beresi!” Aku memunguti pecahan kaca yang besar dan memasukannya dalam kantung plastic setelah dibalut kertas. Sungmin hyung membereskan pecahan kaca yang kecil.

“Ada apa? Apa yang pecah?” Yesung hyung muncul diambang pintu. Kkoming berjalan membuntutinya dibelakang.

“Mangkuk kaca.” Jawabku cepat lalu membantu Sungmin hyung.

“Hati-hati, Ryeowook-a! Ah! Jarimu! Berdarah!” Sungmin hyung memekik. Aku melihat kedua tanganku. Dan benar saja. Jari telunjuk tangan kananku tergores dan mengeluarkan darah segar.

“Sungmin beresi itu saja. Aku urusi Ryeowook.” Yesung hyung menarik tanganku. Sebelum lenyap dibalik dinding aku sempat melihat, Sungmin hyung hanya diam, ekspresinnya terlihat kaku. Apa dia… cemburu? Kalau iya aku akan senang. Ya, aku memang menyukainya.

 

“Dalam sekali…”

Yesung hyung mendesis pelan. Jemarinya dengan lincah membalut lukaku setelah memberi obat merah. Tak kusangka dia pandai juga dalam hal ini.

Kkoming menatapku seolah mengerti keadan dan bertanya, “Gwenchanayo?”

Aku tersenyum lalu mengelus Kkoming lembut. Anjing itu terlihat menikmatinya.

“Kau semakin akrab dengan Kkoming, ya?” Tanya Yesung hyung sembari membereskan perlatannya.

Aku hanya terkekeh pelan. Kuangkat Kkoming dan mendekapnya dalam pelukanku.

“Aku ke dapur dulu.” Aku beranjak dari kasurku. Dengan tetap menggendong Kkoming aku berjalan meninggalkan kamarku dan Yesung hyung.

Kulongokan kepalaku dari pintu dapur. Terlihat namja manis itu sedang mencuci tangannya dia wastafel. Wajahnya meringis.

Dengan terburu aku menghampirinya. “Hyung? Gwenchanayo? Kena pecahan kaca?” Aku memburunya sembari menarik tangannya. Kudapati sebuah luka sedikit dalam, dan tergores memanjang di sepanjang jari tengahnya. Lukanya sudah bersh dari darah tapi kau bisa melihat apa dibalik kulitnya jika mengati luka tersebut. “Bagaimana bisa sepanjang ini? Ayo, obati!”

Dia hanya mengikut saja saat kutarik menuju kamarku.

Yesung hyung berbaring di ranjangnya. Dia menoleh padaku ketika aku membuka pintu dengan sedikit kasar.

“Wae?”

“Sungmin hyung luka. Mana kotak obatnya?”

Yesung hyung menyerahkan kotak obatnya. Lalu meninggalkanku dan Ryeowook di kamar saat mendengar suara bel dorm.

Aku mengobati lukanya dalam diam. Dan kurasa saat itu Sungmin hyung menatapku terus, bergantian dengan menatap lukanya.

“S-saranghae…”

Sebuah bisikan halus dan sangat pelan, tapi telingaku cukup tajam untuk menangkapnya.

Kuangkat wajahku, menatap wajahnya.

Semerbak rona merah menghiasi kulit putih itu.

Mataku menatap dalam kedua bola matanya, mencari kejujuran disana. Dia terlihat gugup ddan…, takut.

Kami berdua terdiam cukup lama. Membiarkan hening mengambil alih suasana.

“M-mian.” Suaranya memecah udara. “Aku hanya ingin mengatakannya padamu. Kau lup–”

“Nado.”

“Eh?” Dia mengangkat wajahnya, menatapku. Aku tersenyum padanya. Kulihat warna merah itu kembali hadir di pipinya. “Nado saranghae.”

Dia terlihat terkejut. Matanya membulat.

Ku ambil kesempatan ini utk mengecup bibir tipisnya. Dia diam, tak merespon apapun. Matanya menerjap beberapa kali, aku melihatnya.

“Saranghae.” Kusatukan kembali bibir kami. Dia memejamkan matanya. Bibirnya mulai membalas pagutan demi pagutan dariku. Dan ciuman kami semakin panas. Saling melumat, menghisap, meminta lebih dari sang partner. Sesekali diselingi dengan pertukaran air liur.

Tanpa aba-aba dariku Sungmin hyung merebahkan tubuhnya di ranjang. Aku merangkak ketas tubuhnya. Kusibak poni yang menghalangi matanya. Tersenyum semanis mungkin yang ku bisa.

Kutarik kerah kaos merah mudanya hingga bahu dan mulai menciumi kulit putih yang terpampang jelas itu.

Dan aku lupa, kalau Kkoming masih bersama kami… wajahnya memerah dan akhirnya ambruk di lantai.

 

 

====

Ottokhe?? Gmn? Failed?

TT_________TT

Author gi males lanjutin Force-nya.. jd mian buat yg nunggu… >.< (mang ada? TT.TT)

Sebnrnya ada versi keduanya sih… tp males lanjtin… jd ini az ne… ^^~

Jg sebnrnya ad yg sungmin pov… tp bru dalm otak author … blon diketik… yg mau coment, ne?^^ soalnya kayaknya lbh panjang dr ini, jd gitudeh niat nulisnya

Like or coment ok?^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s