Loser (The One Who Will Cry)

Dalam jarak sedekat ini, aku dapat merasakan nafasnya menerpa wajahku. Hangat…

“S-Seohyun…?” panggilku gugup.

Seohyun masih menatapku dalam. Tangannya yang mencengkram pingganggku menarik tubuhku agar semakin rapat padanya.

Aku membelalak kaget ketika dia semakin mendekatkan wajahanya padaku. Mendekatkan bibir kami… dan…


BRAAKKK

Terdengar suara pintu dibanting. Dengan cepat aku dan Seohyun menoleh. Terlihat di ambang pintu berdiri Yuri yang menatap kami dengan mata membulat. Dia menatap tajam padaku, seolah ingin menelanku bulat-bulat. Dalam hitungan detik berikutnya aku sudah berada di tarikan tangan Yuri, berlari terseret di sepanjang lorong kelas. Meninggalkan Seohyun di sana…

“Y-Yuri-a!” seruku berusaha menarik tanganku kembali.

Yuri semakin mengencangkan cengkraman tangannya padaku, membuatku meringis. Walau begitu, aku dapat melihat luka dan lebam di balik lengan bajunya. Itu luka karna kejadian kemarin… saat Yuri dan Seohyun beradu…

DUKK

“Aw…” ringisku pelan ketika Yuri mendorongku ke dinding. Tangannya menumpu badannya di dinding ketika mengapitku di dalamnya. Aku terjebak.

Dengan sedikit takut aku mendongakan wajahku, menatap Yuri yang menatapku lekat-lekat. Dengan sirat kekecewaan di sana.

“Kenapa?”

“…” Aku menatapnya tak bergeming.

“Kenapa kamu lakukan itu? Kamu berpaling padanya…?”

“Jawab aku, Taeyeon…” Dia menatpku memohon. “Kenapa kamu bersamanya ketika kamu tahu perasaanku? Kamu membenciku? Bukankah dulu kamu yang menyatakn perasaan padaku? Mengatakan kamu telah terjerumus dalam cinta terlarang padaku.”

“Itu dulu, Yul.” sahutku dingin. Aku harus terliat kuat di depannya.

“Kau tak pernah peduli padaku, kan? Lalu untuk apa aku peduli padamu?”

“Taeng…” desisinya pelan. Dia menatapku pedih. “Aku baru menyadari perasaanku ketika kamu telah memberitahukannya…”

“Lalu kau membuangku? Huh? Pergi bersama Jessica dengan alasan ingin membuatku cemburu? Ingin melihatku cemburu?”

Yuri menatapku dalam bisunya, seolah kata-katanya dalam trurai di udara antara kami berdua.

“Aku menggantung harapan padamu, Yuri… sangat…” suaraku mengecil. “Tapi kau terus mengujiku… walau berusaha bersabar, semua orang punya batasnya. Dan Seohyun-lah yang menyelamatkanku ketika aku terpuruk. Sementara kau masih terlihat santai saja mencium Jessica di depan mataku.”

“I-itu…”

“Kau tahu, Yul? Jessica sangat menyukaimu, sangat… dia rela menjadi alat untukmu… dia bahagia, walau tahu akan tersiksa di akhirnya jika aku bersamamu. Jadi, bahagiakanlah dia… tak usah pedulikan aku karna memang kau tak pernah peduli…”

“Aku peduli, Taeng.” potong Yuri cepat. “Tapi aku tak dapat menunjukannya.”

Aku menatapnya gentir. Muak. “Tak bisa katamu?! Kau selalu di sampingku dan banyak kesempatan untuk itu. Tapi kau tak melakukannya. Apa bisa itu disebut peduli?!”

Tidak. Aku tak mau menyamakannya…

“Seohyun lebih peduli padaku…”

Yuri menatapku berang. “Aku tak mau disamakan dengan bajingan itu!”

Aku semakin muak melihat tampangnya. Semakin bertambah besar kebencianku padanya…

Semkin membuatku menyesal pernah menyukainya.

Dengan cepat aku meloloskan diri darinya. Yuri berusaha menahanku tapi aku lebih gesit. Segera aku berlari menuju kamar mandi. Menghujankan ar keran pada wajahku. Tidak… aku tak menangis… aku hanya menetskan air mata karna menahan emosi.

Kututup mulutku saat melihat bayangan dalam cermin. Sesosok gadis rapuh yang terlihat sangat kacau. Dengan air terus membanjiri wajahnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s