Kinds of Love

TITLE:;: Kinds of Love

PAIRING & CAST:;: HanChul, EunHae, YulSsic, Yoona, Seohyun, CLMinzy, TabiDae, Gummy, Se7en, AmberSul, YunJae

AUTHOR:;: Cherry Chibi>w<

A/N:;: it’s new year! 20 &12!!! ^0^/ *nada True Love – SJM* harusnya ini dipublish pas taun baru… tapi keburu cherry maen keluar, jd klanjutnya hri ini… ga ap, kn? Masih tangga; 1 juga~~ -w-/ happy reading~>w<

WARNING:;: This fanfiction is YAOI & YURI!!! BOY X BOY & GIRL X GIRL!!! Don’t like? DON’T READ!!!>< Bahasa aneh, alur kecepetan, cerita gak genah, OOC, judul gak nyambung ma cerita, de el el! Reader muntah author g nanggung =.= *kabur*

 

“Kajja, Han!” Heechul berteriak dari ambang pintu depan. Dia menghentak-hentakkan kakiknya kecil di lantai, menunjukan kalau dia sudah mulai kehilangan kesabaran. Akhirnya dia beranjak dari tempanya berdiri.

“Ne! Chakkamanyo!!”sahut Hankyung keras dari dalam rumah. Dengan terburu-buru dia menyambar jaketnya dari gantungan jaket lalu berlari menghampiri Heechul yang sekarang sudah berada di gerbang rumah. Segera dia merangkul bahu Heechul dengan lembut.

“Maaf menunggu,” ucap Hankyung.

“So lame.” Keluh Heechul lalu menutup gerbang rumah seenaknya, hanya menutupnya tanpa mengunci.

“Mian,” ucap Hankyung lagi. “Aku tadi ketiduran karena kamu juga, kan?”

“Aku apanya!? Salah sendiri lupa waktu.”

“Kamu terlalu menggoda untuk dilewatkan, Chullie-a…”

Mendengarnya Heechul sedikit bereaksi. Wajahnya sedikit memerah tapi dia pura-pura tak peduli dan mengalihkan perhatiannya pada dua orang namja yang bersandar pada tembok tak jauh dari dia dan Hankyung berjalan.

“Donghae-a,” panggil Heechul pada salah satu namja itu. Dan namja yang lebih pendek dari namja satunya menoleh.

“Oh, Hyung,” sahut Donghae sambil berdiri dari posisi bersandarnya. Dia berdiri menunggu sampai Heechul sampai di tempatnya berdiri.

“Nunggu lama?” tanya Heechul.

“Tidak begitu. Baru 3 menit.” Sahut Donghae riang. “Aku tidak sabar, Hyung! ini pasti akan jadi malam tahun baru terbaik! Dilewatkan dengan na-e Hyukkie setelah lama tidak bertemu.” Donghae merangkul lengan namja di sebelahnya dan tersenyum manis pada namja itu.

“Kalau gitu ayo!” Heechul berjalan mendahului ketiganya. “Kau bisa lanjutkan puncaknya di rumah monyetmu itu.”

“Heechul-a,” Hankyung berjalan mendekati Heechul dan kembali berjalan di sampingnya.

“MONYET!?” pekik Eunhyuk tak terima. “Aku ini monyet silver terkeren!!!”

“Sudahlah, Hyuk…” Donghae berusaha menenangkan kekasihnya dengan cara memeluknya. “Kita lewatkan puncak tahun baru berdua saja, hmm?”

“Tentu saja. Tidak boleh ada orang ketiga yang merusak suasana nanti.” Eunhyuk merangkul bahu Donghae dari samping. “Kajja!”

Kemudian keduanya berjalan di belakang Heechul dan Hankyung. Mereka berempat berjalan menuju taman kota, di mana mereka akan duduk melihat kembang api yang diluncurkan dari pusat kota bersama kekasih masing-masing.

Donghae tersenyum senang. Dia sangat bersemangat sekarang. Diliriknya namja yang berjalan disampingnya dengan menggamit tangannya lembut. Ah, sabarlah, Donghae! Ini belum puncak acara tahun baru dank au sudah sangat bersemangat seperti ini!? Owh, ayolah! Donghae sudah bersemangat sejak bertemu Eunhyuk saat namja itu menjemputnya di stasiun kereta. Dia langsung memeluk erat sahabat sekaligus kekasihnya itu dengan segenap tenaganya.

“Wae?” tanya Eunhyuk tiba-tiba, memecah lamunan Donghae.

“Apanya?” tanya Donghae bingung.

“Senyum-senyum sendiri gitu,”

“Hehehe. Lupakan,” Donghae bergelayut manja di lengan Eunhyuk. Eunhyuk tersenyum melihatnya lalu mengelus kepala kekasihnya lembut. Sekilas matanya melirik dua yeoja cantik yang berdiri di pinggir jalan yang bersebrangan darinya, salah satu dari yeoja itu menangis. Eunhyuk sedikit penasaran kenapa, tapi Donghae yang mengajaknya bicara mengalihkan perhatiannya. Sementara dua yeoja itu masih berdiri di sana sampai mereka berempat menghilang di persimpangan jalan yang sepi tersebut.

“Aku udah capek, Yul,” desis yeoja berambut pirang yang kini tengah menetska air matanya. “Kamu lebih milih Yoona daripada aku, kan? Pergilah! Kejar Yoona sebelum aku mengharapkanmu kembali.”

“Cuma kamu satu-satunya, Ssic. Yoona hanyalah teman di mataku.” Yuri berusaha berjalan mendekati Jessica, tapi dengan cepat Jessica kembali mengambil jarak.

“Tapi dia mengharapkanmu, Yul. Dia mengenalmu lebih dalam daripada aku. Dan dia lebih baik daripada aku.”

“Tapi aku memilihmu, Ssic. Aku nggak memilih Yoona segimanapun dia mengharapkanku.”

“Dia yang lebih baik daripada aku, Yul. Dan aku sudah lelah menghadapi kalian. Aku capek cemburu terus sementara kau tidak peduli,” Jessica menarik nafas, berusaha mengisi dadanya yang sesak. Setetes air bening kembali menetes perlahan dari pelupuk matanya. “Sebelum aku semakin menginginkanmu, sebelum hari jadian kita menjadi genap setahun, lebih baik kita pisah dan melupakan semua.”

“Ssic,” Yuri berjalan cepat dan memeluk Jessica sebelum yeoja itu berhasil menghindar. “Cuma kamu satu-satunya yang aku inginkan. Aku nggak peduli Yoona atau siapapun itu yang mengharapkanku. Aku Cuma milih kamu.” ucapnya lirih di telinga yeoja itu. Semakin dieratkannya tangannya pada tubuh ramping Jessica. Berusaha menyampaikan perasaannya lewat getaran kehangatan di antara tubuh mereka.

“Apa kamu paham?” Yuri berbisik pelan. Lembut.

Jessica memejamkan matanya, berusaha meyakinkan pada dirinya sendiri akan kata-kata Yuri. Perlahan tangannya terangkat dan membalas pelukan Yuri.

“Aku paham.” Ucap Jessica sambil mengangguk. Senyum tipis tercetak di masing-masing bibir mereka. Mereka saling menghirup dalam-dalam farfum satu sama lain, meredam emosi. Kehangatan yang terselip di antara tubuh mereka membantu keduanya saling menghangatkan di udara malam.

Keduanya tak peduli tatapan orang-orang pada mereka. Toh tempat ini sepi, hanya ada dua orang lain di seberang jalan yang cukup jauh dari mereka. Kedua orang itu sempat melihat ke arah Yuri dan Jessica sesaat lalu kembali pada obrolan mereka.

“Mereka ngapain?” tanya seorang dari mereka yang berambut pirang panjang dikucir kuda. Di bagian dada jaket orang itu terdapat inisial “CL”.

“Molla. Bukan urusan kita, kan? Biarkan mereka dengan dunia sendiri.” Sahut orang satunya yang berambut hitam cepak. “Gundae, mana Dara dan Bom?”

“…” yeoja berambut pirang itu tak merespon. Matanya tetap terarah pada Yuri da Jessica yang kini telah melepaskan pelukan mereka.

“YA! CL!” yeoja berambut hitam itu mengguncang bahu CL pelan.

“Ah, ne?” sahut CL sedikit gelagapan karena tiba-tiba saja Yuri dan Jessica berciuman. “Ada apa, Minzy?”

“Kita pergi saja dulu! Mungkin mereka akan telat lagi.” Ajak Minzy.

“Oh, okey.” Sahut CL sambil tersenyum manis. Dia menggamit tangan Minzy dan segera berjalan menuju taman kota. Mereka tidak ke pusat kota karena tahu di sana pasti akan penuh sesak. Sementara taman kota yang memang sering sepi lebih memuadahkan mereka untuk menikmati pergantian tahun.

Sepanjang perjalanan mereka mengobrol tentang beberapa pasangan yang mereka lewati. Sempat CL menegur temannya, Seunghyun atau yang dipanggil Se7en “T.O.P”, bersama dengan kekasihnya yang bernama Daesung. Dan Minzy sempat mengobrol dengan Gummy yang berjalan seorang diri, katanya dia sedang jalan-jalan saja, yah… mungkin juga mencari pasangan. Tahun baru dilewatkan seorang diri pasti tidak enak, kan?

Akhirnya mereka sampai di taman kota. CL menarik Minzy menuju sebuah bangku yang berada di dekat gerombolan bunga lili putih. CL segera duduk di bangku sementara Minzy mengedarkan pandangannya pada seluruh pojok taman. Rupanya taman tidak begitu sepi. Ada beberapa pasangan yang berada di pojok maupun tengah taman.

“Duduk,” CL menarik paksa Minzy sampai yeoja itu terduduk di bangku, tepat di sebelah CL. “Wae?” tanyanay saat melihat Minzy tak menatapnya.

“Kenapa di sini semuanya pasangan yang ‘melenceng’?” tanya Minzy bingung sambil menatap sang kekasih.

“Jinjja?” CL ikut-ikut mengamati pasangan di taman itu. Benar, semua orang di sana bersama kekasihnya yang sama gendernya dengan masing-masin mereka. tapi mata CL menangkap dua orang yang duduk di bawah pohon. CL menyipitkan matanya, berusaha menajamkan penglihatannya.

“Mereka cewek-cowok, kan?” CL menunjuk dua orang itu.

“Mana? Mana?” Minzy ikut melihat ke arah CL menunjuk. Telihat seorang dari dua yang yang ditunjuk CL sedang menepuk lembut kepala orang satunya. Yang ditepuk jelas-jelas seorang gadis karena mengenakan rok selutut dengan celana legging ketat dan rambut yang dikucr dua ke samping. Sementara yang menepuk mengenakan jaket berwarna merah dan mengenakan topi sehingga wajahnya tidak begitu terlihat jelas. Rambut hitamnya dipotong pendek seleher sehingga dia terlihat seperti lelaki.

“Dia cewek,” sanggah Minzy. “Tuh, tangannya mungil. Tangan cewek. Lehernya juga nggak ada jakunnya. Kelihatan kalau leher cewek.”

“Nggak kelihatan,” CL semakin menyipitkan matanya.

“Kamu sipit, sih!”

“Kamu juga sipit!” CL menatap Minzy dengan melebarkan matanya. Berusaha menunjukan bahwa Minzy lebih sipit.

“Kamu kali! Aku bisa melotot lebih!”

“Aku juga bisa!”

“Wajahmu bundar,”

“Wajahmu lebih bundar!”

Dan terjadilah pertengkaran kecil. Keributan yang ditimbulkan oleh mereka membuat beberapa pasang mata di sana menoleh, sebagian terlihat cuek walau sebenarnya sedikit terganggu. Termasuk dua orang yang CL dan Minzy bicarakan tadi. Seorang di antaranya berusaha menghalangi satunya agar tak melihat pertengkaran tak berguna Miny dan CL.

“Apaan, sih, Amber unnie?” yeoja berparas manis itu berusaha menyikirkan lengan Amber yang menghalangi pandangannya. “Aku mau lihat. Mereka ngapain?”

“Udahlah,” Amber menahan yeoja itu agar tak berpindah duduk. “Cuma ribut biasa, Sulli.”

“Tapi aku mau lihat!” Sulli beranjak dari duduknya tapi langsung ditahan Amber dengan memegangi pinggangnya. Tapi Sulli terus berontak hingga tanpa sadar menubruk orang yang berjalan di belakangnya hingga keduanya terjatuh.

BRUKK

“Awww,” Sulli meringis. Telapak tangannya yang digunakan untuk menahan tubuhnya terasa nyeri. Dan setelah dilihat ternyata kulitnya mengelupas.

“Gwenchana?” tanya Amber cemas. Dibantunya sang adik-yang sebenarnya dicintainya- untuk berdiri dan membersihkan tanah yang mengotori pakaian yeoja itu.

“Nan gwencahana,” sahut Sulli pelan. Sedetik kemudian dia sadar kalau orang yang ditabraknya tadi juga terjatuh. “Gwen—” kalimat Sulli terpotong saat dia tak menemukan siapapun di sana. Dan setelah melihat sekitar barulah dia tahu kalau orang yang ditabraknya telah berlari meninggalkan mereka menuju pojok taman lainnya. Setelah yakin bahwa orang itu baik-baik saja dengan cara berlarinya, Sulli kembali duduk di sebelah Amber.

“Hati-hati!” Amber melihat luka di telapak tangan Sulli. “Tuh, kan!”

Sulli menggembungkan pipinya kecil. “Aku juga nggak tahu kalau ada orang.”

Amber menghela nafas. Dia memang harus benar-benar menjaga Sulli. Repot memang, tapi itu merupakan kesenangan tersendiri baginya. Dengan lembut dia menepuk kepala Sulli. “Sudahlah. Kita nikmati malam ini.”

“Eung.” Sulli tersenyum manis. Sekilas sudut matanya masih sempat melirik orang yang berlari tadi. Yang kini tengah menyerahkan sesuatu pada namja yang berbaring di pojok taman. Entahlah, Sulli tak terlalu memperhatikannya karena dia lebih tertarik pada senyum Amber padanya.

Sementara orang yang ditabrak Sulli tadi juga melirik Sulli setelah menyerahkan sebotol minuman pada namja yang tadinya berbaring dan kini memanggil namanya.

“Jaejoong-a,”

“Hmm?” sahut orang itu, menatap namja yang kini tengah duduk di rerumputan.

Namja itu menepuk tempat di sampingnya, menyuruh Jaejoong duduk di sana. Jaejoong menurut. Dengan segera dia duduk sambil menyelonjorkan kakinya. Kepalanya tengadah, menatap langit malam yang kosong tanpa bintang karena cahaya lain di sekitarnya lebih kuat.

“Jaejoong-a,”

“Hmm?”

“Kau marah padaku?”

“Hah?” Jaejoong menoleh secepat kilat pada namja di sampingnya. Dia melempar tatapan tak mengerti.

“Seharian ini kau dingin padaku. Waekureyo?”

Jaejoong tersenyum tipis. Dia menggeleng dan kembali menatap langit.

“Lalu?”

“…”

“Jae,”

“Hmm?”

“Kalau ada masalah katakan saja.” Kata namja itu pelan. Dirapatkannya tubuhnya pada Jaejoong lalu memeluk namja itu dari samping.

“Tidak ada apa-apa, Yunho.” Jawab Jaejoong pelan.

Tapi Yunho tetap tidak percaya. Dia bisa membaca ekspresi dan gerak-gerik Jaejoong. Dia tahu betul bahwa kini Jaejoong sedng punya masalah, tapi ada itu Yunho sendiri tak tahu. Meski begitu dia tidak memaksa. Jika Jaejoong ingin bercerita maka dia akan bicara sendiri. Yang Yunho bisa lakukan sekarang hanyalah memeluk Jaejoong, memberitahunya bahwa dia masih mempunyai tempat bersandar.

Perlahan tangan Yunho terangkat, meraih kepala Jaejoong dari samping yang kemudian disandarkan pada bahu Yunho sendiri.

Jaejoong memejamkan matanya, meresapi perhatian Yunho padanya. Andai kata masalah yang dilandanya tidak mempersulit Yunho pasti Jaejoong sudah mengatakanya, meluapkan perasaannya yang berkecamuk dalam dada. Tapi Jaejoong terlalu sayang pada Yunho. Dia tak mau sampai Yunho terlibat masalah sepelenya yang akan berakibat makin buruk bagi keduanya.

Yang kini dilakukan keduanya hanyalah diam. Menyalurkan perhatian dan kasih sayang lewat udara. Meresapi seluruh tumpah ruah cinta dari sang kekasih. Meyakinkan bahwa yang terpenting masih mempunyai satu sama lain. Dan itu sudah cukup ketika percikan api terlihat melintasi langit malam dan terberai dengan indanhnya membentuk seni yang bercahaya. Berdercak kagum saat suara ledakan terdengar dan menggenggam tangan kekasih masing-masing berusaha mengurangi keterkejutan.

Malam itu menjadi hangat. Berbagai macam cinta terlihat. Dari tatapan sayang sebelum memiliki sampai tatapan cinta tak ingin dipisah.

Malam yang indah saat terompet cinta ditiupkan. Menghantarkan segenap perasaan pada setiap makhluk hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s