Force 6

Cherry Chibi presents~

FORCE

The 6th story of them

[A fantasy fiction of Super Junior members]

Happy reading~

~:0:~

Mata Jungsoo membulat. Tanpa sadar dia menarik kakinya mundur kakinya. Dia menelan salivanya berat. Dengan suara bergetar dia berkata, “Dia menemukan kita…”

Ne?” Ryeowook menatap hyungnya bingung. Tak paham. Dia? Nugu?

Jongwoon berjalan mendekati mereka.

“Dia datang.”

“Ya. Aku sudah datang.”

Ryeowook, Jungsoo, dan Jongwoon menoleh ke asal suara. Ekspresi Jungsoo terlihat panik, sementara Jongwoon terlihat bersiap-siap. Terlihat sesosok namja berdiri tak jauh dari mereka. Namja yang di wajahnya terdapat sebuah mark di pipi kirinya.

“Aku kembali, Ryeowookie…”

Nafas Ryeowook tertahan. Dia ingat wajah itu…

Wajah yang berulang kali berkelebat di pikirannya. Yang menganggunya selama ini.

“Kau tahu aku, kan?” namja itu tersenyum mengerikan. Dia berjalan mendekati Ryeowook tapi langkahnya terhenti saat Jongwoon menghadangnya.

“Wow! Wow! Tenang dulu, Jongwoon-ssi! Kita tak mungkin bertarung di sini, kan?” namja itu mengangkat kedua bahunya, meminta persetujuan Jongwoon. Butuh beberapa detik Jongwoon dan namja itu saling bertatapan hingga akhirnya Jongwoon menurunkan tangannya. Namja itu tersenyum. Dia mendekati Ryeowook tiga langkah.

Nugusaeyo?” tanya Ryeowook dingin. Dia punya perasaan tidak enak pada namja ini. Auranya mencekam.

“Aku? Aku kakakmu, kau tidak ingat?”

Ryeowook mengernyitkan keningnya.

Namja itu terkekeh pelan melihat ekspresi Ryeowook. Tapi entah kenapa tawanya terdengar mengerikan, seperti meledek. Dia menatap Ryeowook dengan senyum meremehkan, dia benar-benar meledek.

“Tentu saja anak kecil sepertimu tidak tahu. Bahkan mungkin Jungsoo sendiri tidak tahu bagaimana cerita lengkap tentang kita. Benar, ‘kan, Hyung?” namja itu menatap Jungsoo dengan senyum yang membuat Jungsoo kembali menelan saliva.

Namja itu kembali menatap Ryeowook saat tak mendapat jawaban dari Jungsoo, tapi dia tidak mempermasalahkannya.

“Sebelum aku menghancurkanmu mungkin lebih baik aku bercerita… agar kau tidak kebingungan dengan keadaan ini. Lagipula… ini wasiat Appa padaku. Menjelaskan pada keluarga kalian tentang dosa kalian.” Senyum di wajahnya menghilang, berubah menjadi ekspresi yang keras. Ryeowook menegang melihatnya.

“Semua berawal dari kesalahan Ummamu, Kim Ryeowook!” namja itu menatap tajam Ryeowook, membuatnya sedikit takut. Namun dia penasaran apa yang terjadi di masa lalu hingga dia harus mengalami hal-hal seperti ini.

“Dia yang menggoda Appaku hingga aku terlahir di dunia ini dengan nama ‘anak haram’. Sayang nasib baik berpihak pada keluarga kalian yang tinggi derajatnya. Kalian membuang kami dengan melupakan sebuah hal.” Mengambil jeda. Dia menarik napas, berusaha menahan genangan air di sudut matanya. Tidak, dia tidak menangis sedih atau marah. Dia menangis tertawa. Yang Ryeowook tahu tawa itu ditujukan pada keluarganya, yang telah melupakan suatu hal itu.

“Apa kau tahu apa itu?” tanyanya lirih.

Entah dari mana Ryeowook mendapat jawaban, hanya saja kalimat itu terlontar begitu saja dari bibirnya yang sedikit gemetar. “Kekuatan… pemegang kunci Penjara Neraka…?”

Namja itu tersenyum puas. “Kau pintar juga.”

Dia berjalan semakin mendekat pada Ryeowook. Dalam gerakan lambat tangannya menangkup di pipi kanan Ryeowook. Ibu jarinya mengelus mark di bawah mata kanan Ryeowook yang sedikit gugup. Tatapan namja itu terlihat seperti menerawang. Tapi detik berikutnya dia melepas tangannya dan menatap datar Ryeowook.

“Kalian lupa bahwa aku memiliki darah Umma, yang berarti aku juga punya kekuatan untuk memegang kunci Penjara Neraka.” Dengan tangan kanannya dia mengelus mark di pipi kirinya. Tatapanya meredup. Dia terdiam beberapa saat, membiarkan keheningan mengambil alih suasana sebelum akhirnya kembali menatap Ryeowook.

“Itu artinya kita terhubung, Ryeowookie…” dia tersenyum lembut. Tapi mata Ryeowook menangkapnya sebagai senyum yang menakutkan. “Kau… adikku.”

“Jadi kau yang sering muncul menganggu pikiranku itu?” Tanya Ryeowook.

Namja itu menggeleng pelan. “Bukan hanya aku. Aku justru baik, lho. Memberitahu kebenaran padamu. Yang sering muncul itu Jungsoo.” Dia menatap Jungsoo yang sedari tadi diam. “Benar, kan, Hyung?” dia tersenyum.

Jungsoo terdiam kaku. Dia menatap Ryeowook yang melemparkan tatapan untuk menjawab.

Ryeowook berharap Jungsoo untuk mengatakan tidak. Dia tersiksa dengan pikiran—atau apapun itu namanya—yang selalu muncul di benaknya. Itu menganggunya. Dan membuatnya kebingungan. Yang mana yang benar dan salah…? Dia tidak ingat…

“Jungsoo menutupi kenyataan bahwa orangtua, ah tepatnya Umma kita, meninggal saat melaksanakan tugasnya—sebagai pemegang kunci Penjara Neraka. Dia mengubahnya jadi ingatan kalau kalian terkena kecelakaan mobil. Dengan begitu kau tidak akan bertanya apa-apa.” Dia kembali menatap Ryeowook.

“?” Ryeowook menatap bingung namja tersebut. Dia masih belum mengerti sepenuhnya. Jadi selama ini yang ada dalam pikirannya hanyalah ilusi? Bukan kenyataan masa lalu ataupun masa depan? Hanya… bayangan?

“Lalu… siapa yang bersamaku selama ini? Seingatku kecelakaan itu saat aku berusia 10 tahun, sementara Umma Appa meninggal saat melaksanakan tugasnya. Bukankah tugas itu saat aku 5 tahun? Ah… tapi…” Ryeowook mencengkram kepalanya. “Tung—tunggu dulu!” Kepalanya terasa berdenyut sekarang. Memori satu persatu meluap begitu saja. Entah itu benar atau ilusi buatan Jungsoo—itupun jika memang semua ilusi palsu dibuat Jungsoo.

Kenapa dia baru menyadarinya sekarang bahwa bayak ingatan yang ganjil di otaknya?

“Kau masih terlalu kecil untuk mengingatnya Ryeowook. Mereka memang sempat melaksanakn tugas untuk menggantikan orangtua Jungsoo yang tewas di medan. Tapi mereka pulang dengan selamat. Walau akhirnya orang orang yang dendam pada orangtua kalian membunuh mereka saat kau besar, saat mereka kembali bertugas. Apa kau ingat, sebenarnya dalam kecelakaan mobil itu kau hanya bersama Jungsoo? ”

Ryeowook menggeleng pelan. Yah, mungkin memang saat itu dia memang tidak terlalu kecil untuk mengingat suatu peristiwa besar. Dia tak tahu lagi yang mana kenyataan dan ilusi. Memorinya acak-acakan. Satu hal pasti yang dia tahu; namja di depannya membencinya.

Ryeowook mulai bersiaga. Namja itu hanya tertawa kecil melihat pergerakan Ryeowook.

“Aku menunjukan kejadian yang sebenarnya padamu. Tentang seorang anak kecil yang menangis dibuang oleh keluarganya.” Dia menghela napas. Dadanya terasa sesak setiap mengingatnya. Walau dia tahu perannya sebagai penghukum yang ‘jahat’ bagi yang baik namun ‘kejam’, dia tidak bisa menahan emosi alaminya sebagai manusia.

“Kita sama, Ryeowookie. Hanya memiliki setengah darah keluarga kita karena Appa kita manusia. Dan itu menjadikan Jungsoo yang berdarah murni jadi pemegang kunci nomor satu. Dia takut padaku yang dendam pada kalian justru melarikan diri dan memberikan tanggung jawab padamu. Kasihan sekali…”

“Tidak.” Jungsoo menyela. Semua pasang mata di sana menoleh menatapnya. “Aku tidak melarikan diri. Aku hanya melindungi Ryeowook dari tangan licikmu.”

“Owh… kejam sekali kata-katamu. Pantas omong kosong keluarga kalian dipercaya orang-orang.” Dia tersenyum mengejek. Ryeowook muak melihatnya.

Jungsoo memasang wajah tak suka. Rahangnya merengas. “Jadi apa maumu?”

“Mauku?” dia tersenyum meremehkan. “Mudah sekali. Balas dendam dan merebut apa yang seharusnya milikku.”

Ryeowook menelan salivanya. Dia tahu apa yang diincar namja itu. Dan dia tahu nyawanya terancam sekarang.

Namja itu menatap Ryeowook. “Dan rebutlah apa yang jadi milikmu.”

SRETT

Ryeowook membulatkan matanya ketika menangkap dua sosok namja yang muncul saat namja itu menggerakan tangannya ke atas dengan gerakan cepat. Suaranya tercekat di tenggorokan, terlalu takut mungkin, untuk menyebutkan nama seseorang.

“Kyuhyun!” seru Jungsoo. Matanya membulat. Dia menatap geram namja yang berstatus sepupu tak ‘resmi’ itu. “Jangan libatkan orang lain, LEE HYUKJAE!”

Hyukjae menyeringai sebelum secepat kilat menghilang bersama Kyuhyun dan Changmin yang tak sadarkan diri. Jungsoo terlihat ingin menahannya tapi terlambat.

“Jongwoon, kita kembali dan bawa pasukan!” seru Jungsoo terburu. Jongwoon mengangguk. Segera mereka bertiga berlari menuju tenda mereka dan menghubungi lainnya.

“Sekarang saatnya…” Youngwoon tersenyum senang. Dia menatap satu per satu anggota kelompoknya dan Jungsoo.

“Ryeowook, kau di sini.” Ucap Jungsoo, menatap cemas Ryeowook.

“Mwo?! Shireo! Ini berkaitan dengan keluargaku—anak Ummaku.”

“Tapi kalau kau mati dunia akan hancur. Dia mengincar kunci Penjara Neraka. Di sana banyak makhluk—”

“Aku tahu,” potong Ryeowook. Dia menatap sang kakak serius. “Biarkan aku maju, Hyung. Aku bisa menjaga diri. Lagipula tak mungkin aku membiarkan sahabat dan keluargaku maju sementara aku diam bersantai.”

“Tapi—”

“Kita pergi sekarang.” Jongwoon memotong percakapan mereka. “Tolong bawa kami ke tempat ‘itu’, Jungsoo-ssi. L.D sudah menunggu di sana.”

Jungsoo sedikit pucat. Dia menatap Ryeowook khawatir namun segera Ryeowook menenangkannya dengan menggenggam tangannya. Heechul turut menepuk punggung sahabatnya itu. Jungsoo menelan ludah. Semua tatapan mengarah padanya memberi semangat. Percaya padanya.

Dia tidak mau adiknya meninggal, yang berarti juga sama dengan kematian dunia. Karena sejatinya kekuatan Ryeowook lebih besar darinya meski dia bukan darah murni, entah mengapa, hanya saja belum terlihat—hanya dia yang tahu hal ini. Dan untuk saat ini tentu saja semua mengandalkan Jungsoo. Terlalu dini memang untuk membiarkan Ryeowook bertarung dengan kekuatan seperti itu. Tapi, kalau terlalu lama menunggu, nyawa dua orang dipertaruhkan. Dan Hyukjae tidak akan tinggal diam jika mangsanya belum datang. Dia akan terus mengejarnya.

Akhirnya setelah terdiam berpikir beberapa saat, dengan suara bergetar dia berkata,

“B-baiklah,”

Jongwoon tersenyum. Sebuah garis lengkung indah di pipi itu yang sempat membuat Ryeowook terpaku beberapa saat.

“Kita berangkat…”

“Medan perang, here we come!”

Battle field, Hyung…”

Arraseo, Kibum…”

TBC

Nyahahayyy~~… ngerti jalan ceritanya g? klu ngerti syukurlah… yg g ya udah… cherry ndiri mbundet nulisnya… campur campur… jadi salak(?)

Tuh kan… kepala cherry abis kebentur apa coba?

Au ah…

Yg pokoknya yg masih bingung kasih tau di mana bingungnya! Nanti cherry jelasin… ^^

Untuk yg setia review cherry makasih bangets~~~ >w< *hug* n yg dah baca walau jdi siders… *hug*

Tapi demi kedamaian dunia… mohon untuk review? Walau cherry sadar diri kalau cherry bukanlah author yg teladan… selalu ngaret n ngeplastik…~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s